STRUKTUR ADAT AWAL
Menurut tradisi lisan dan mulai tercatat oleh LMA Dayak Tobag, Struktur Adat yang tertata sejak pimpinan Adipati (Patih) Batu Antik, pada abad ke 14. Beliau adalah keturunan Raja Tungkat Rayat di Kerajaan Bakula Pura (Disekitar muara Pawan). Batu Antik menikahi putri bungsu Macan Tikas. Dan mengikuti bele’k Dayak Tobag dan menetap di Laman Benua Lancak.
Patih Batu Antik membenahi struktur adat dengan mengadopsi hirarki dari Raja Tungkat Rayat. Hirarki tertinggi dalam adat lah Raja Tungkat Rayat. Bawahan langsung Adipati, adalah Singapati, Riyo atau Riya, Patinggi, dan Rangga. Bawahan Adipati di suatu wilayah adat adalah Para Tumenggung. Para Tumenggung membentuk Jaya atau Jayo. Jayo dibantu Pesirah dan Lawang Agong.
STRUKTUR ADAT PENGARUH ISLAM
Struktur adat terus mengalami penyesuaian saat Tayan berpisah secara mandiri menjadi Kerajaan oleh Raden Likar, ia adalah turunan Raja Tanjungpura pada abad ke 17. Hirarki tertinggi dipegang Raja Tayan, dan tidak lagi Raja Tungkat Rayat atau Raja Tanjungpura. Adipati Tayan sudah menjadi Raja.
Raja Tayan tidak langsung menangani adat. Adat dibawah kendali Patih, meskipun amar adat tertinggi adalah Raja. Pada Abad 18, pengaruh Islam sangat kuat dalam kerajaan Tayan. Sehingga pada masa itu, Patih tidak lagi memegang kendali penuh adat, Raja Tayan (Panembah) saat itu mengukuhkan Mangku Serta Raja, sebagai wakil Raja yang menangani Adat diwilayah benua adat, yang lebih dikenal dengan sebutan Mangku Adat.
PEMBAHARUAN KEMBALI STRUKTUR ADAT
Setelah kemerdekaan RI, para sesepuh dan tokoh adat mulai bangkit dengan semangat dan tekad yang kuat ingin kembali bersatu dalam komunitas adat melalui Dayak in action (DIA). Yang kemudian menjadi Partai Persatuan Dayak (PPD). Tayan yang menjadi markas besar Dayak Tobag membentuk PPD wilayah Kawedanan Tayan. Adat pun secara perlahan diperkuat, meskipun setiap wilayah masih banyak perbedaan secara struktur dan aturan. Setelah Orde baru, PPD melebur menjadi PDI karena pemerintah tidak menganut sistem multipartai.
Mantan pengurus PPD Tayan sebagian besar tidak bergabung dengan PDI, dan memilih menjadi Pengurus Asrama Persatuan Dayak, yang berkedudukan di Pulau Tayan. Bapak Kintoi, Cembang, Dani, Langit, Salim dan kawan-kawan mulai merangkul kaum cendikiawan Dayak Tobag. Akhir tahun 1980-an semangat persatuan Dayak Tobag kembali bangkit. Awal 1990-an para sepuh, tokoh adat, dan cendikiawan Dayak Tobag sering mengadakan pertemuan dalam upaya penguatan adat.
Pada tahun 1993 terbentuklah LMA Dayak Tobag yang digagas kaum Cendikiawan yang dimotori bapak Amen Arianto, SH. dan kawan-kawan. Struktur adat mulai dibenahi kembali. Mangku adat tidak digunakan lagi dengan pertimbangan Sistem kerajaan sudah dibubarkan. Sebagai pengganti Mangku Adat saat itu adalah Pati Adat. Saat ini hirarki tertinggi adat ada pada Pimpinan LMA Dayak Tobag. Struktur Ketumenggungan masih tetap.
PEMBAHARUAN SETELAH MUSDAT 2023

Setelah Musdat XI di Subah pada tahun 2023, AD/ART LMA Dayak Tobag diperbaharui. Maka struktur adat pun dikembalikan seperti masa Adipati yang menguasai Kadipaten Tayan. Struktur Adat tersebut seperti dibawah berikut ini.
STRUKTUR PIMPINAN ADAT

Pejabat yang masuk dalam Struktur Pimpinan adat ini juga merangkap menjadi Dewan Pimpinan Pengurus LMA Dayak Tobag.
STRUKTUR BENUA ADAT

Pejabat dalam Struktur Benua Adat ini juga merangkap menjadi Pengurus Wilayah LMA Dayak Tobag yang berada di 7 (Tujuh) Benua Adat.
STRUKTUR KETUMENGGUNGAN ADAT

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Tugas dan tanggung jawab seperti yang dijelaskan dalam artikel Para Pengurus LMADT.



