Tradisi Pengobatan dalam kebudayaan Dayak Tobag

LATAR BELAKANG

‎‎Menurut tradisi lisan leluhur Dayak Tobag, ada kisah awal yang berkenaan dengan tradisi pengobatan. Ini terdapat dalam kisah Langkang Kolang. Langkang Kolang merupakan suku Mambang. Ia sangat ramah, lembut, murah hati dan suka menolong tanpa melihat dari kaum mana. Berbeda sekali dengan kerabatnya yang lain, cenderung sombong dan kasar karena postur tubuhnya yang lebih besar dan kuat dari suku bangsa lain.  Langkang Kolang sangat welas asih, dan tidak membedakan suku bangsa, ia tetap setia dan menolong kepada siapa pun yang memerlukan pertolongan nya.   Meskipun memiliki cacat fisik, Langkang Kolang terus melanglang buana. Banyak bangsa binatang menyukai Langkang Kolang. Sehingga banyak binatang yang memberitahu bahan obat kepada Langkang Kolang. Yang sangat dekat dengannya diantaranya:  Bujakng Baning (sikura), Dayang Ligoh (siberuang putih), dan Dayang Sidara (siburung kurik). Ketiga binatang setia menemani Langkang Kolang dalam petualangannya. Tumbuhan sangat senang dengannya, apapun yang dibutuhkan Langkang Kolang untuk obat, tumbuhan-tumbuhan akan memberinya.‎‎Dalam pengabdiannya untuk menolong sesama melalui pengobatan, akhirnya  Langkang kolang diminta naik ke alam Sanuk, tempat para bidadara/bidadari. Dalam perjalanannya menuju Alam Sanuk, ia mendapat banyak rintangan, namun ia mendapat bantuan dari sahabat binatangnya itu. Sesampai  di Alam Sanuk, ia dijadikan hamba. Tapi Langkang Kolang tetap menjalankan tugasnya sebagai hamba di alam Sanuk. Raja Sengiang melihat kesetiaan dan ketulusan Langkang Kolang, menjadi hamba di Alam Sanuk adalah ujian. Raja Sengiang pun menganugerahkannya dengan mengangkatnya ketempat tinggi diantara para Sengiang. Langkang Kolang diangkat menjadi Sengiang Penyempule’ atau Sang Penyembuh. Nanti ia akan lebih dikenal dengan nama Mambang Kolang. Demikian kisah singkatnya.‎

WARISAN PENGOBATAN‎‎

Dari mitologi diatas, kita dapat mengetahui kalau leluhur Dayak sudah menggunakan bahan-bahan dari alam untuk pengobatan. Setelah Mambang Kolang tidak bisa secara langsung hadir bersama manusia. Ia juga tidak memiliki seorang murid. Tapi ia menitis kepada manusia pilihannya. Setelah menitis dalam diri manusia, Mambang Kolang dengan identitas baru, akan membagi ilmu pengobatannya secara terpisah disetiap tempat disetiap wilayah. Hal ini dilakukan Mambang Kolang, agar karyanya akan terus abadi di Alam Bumi.‎‎Murid atau penerus dari titisan Mambang Kolang ini kita kenal sebagai dukun. Penerus Mambang Kolang tidak memiliki kemampuan sama. Penerus yang mengabdi dengan tulus tidak akan mudah dipengaruhi, ia terikat sumpah janji pada leluhurnya. Penerus yang mengabdi  tidak dengan tulus,  akan cenderung punya keinginan dan tujuan menjadi yang lebih berkuasa dan hebat, dan mereka ini akan menjadi sesat dan dimanfaatkan bangsa Sangun (Setan).‎‎

Para Dukun dimasa lampau melakukan pengobatan dengan beberapa cara, diantaranya:

  1. Bepaca (Bermantra); Bepaca atau bermantra adalah upaya awal dalam pengobatan. Mantra tentu disesuaikan jenis penyakit yang akan diobati. Jenis pengobatan ini memerlukan media pengobatan, contohnya seperti: Daun Sirih, kapur sirih, kunyit, bawang dan lain-lain.
  2. Bebaer (Ritual manta’); Bebaer merupakan ritual sederhana, berupa ancak dan sesaji. Sebelum melakukan ritual ini biasanya dilaksanakan Ritual Betonong atau mencari tahu asal sumber dan penyebab masalah. Ritual bebaer ini adalah upaya berkomunikasi dengan sumber dan penyebab masalah. Biasanya dilakukan ritual ditempat yang dianggap angker atau ada penunggu gaibnya. Tujuan dilaksanakannya ritual bebaer merupakan ungkapan permohonan maaf dan ampun atas keteledoran, kelalaian dan kesalahan pasien baik disengaja atau pun tidak.
  3. ‎Betilik (Ritual stongah masak); Betilik merupakan ritual perdukunan dengan perlengkapan ritual sederhana. Ritual ini sebagai upaya awal sebelum dilaksanakannya ritual Berasek; Kalau setelah dilakukan ritual Betilik, pasien lalu sembuh, maka tidak diperlukan lagi ritual Berasek;
  4. Berasek (Ritual masak); Berasek merupakan ritual yang sering dikenal perdukunan; Berasek adalah upaya akhir setelah kedua cara diatas tak berhasil. Ritual ini dalam upaya menyambung koneksi kepada Sengiang Penyempule’, karena hanya dia yang tahu cara dan obatnya. Kita manusia hanya bisa berkomunikasi dengan Sengiang melalui ritual khusus. Tapi memang ada sejak masa kegelapan, para dukun mempraktekkan ritual ini untuk tujuan berkomunikasi dengan makhluk halus lainnya, dan inilah awal penyimpangan itu, sehingga dukun identik ritual klenik atau jin; maka ada yang beranggapan dukun adalah pemuja setan; Pengertian dukun dimasa lampau dan sekarang, jadi bertolak belakang, awalnya baik menjadi tidak baik, awalnya suci menjadi jahat, sungguh ironi;

HUTAN MENJADI APOTIK HIDUP

‎‎Sebelumnya diatas sudah disampaikan kalau leluhur dahulu menggunakan bahan-bahan dari alam untuk keperluan pengobatan. Bagi bangsa Dayak, hutan bukan hanya lumbung makanan, tetapi juga adalah apotik hidup. Disebut Apotik hidup, karena hutan menyediakan bahan-bahan untuk keperluan pengobatan. ‎‎

Bahan-bahan untuk keperluan pengobatan dari hutan, bisa berasal dari:

  1. Tumbuh-Tumbuhan.
  2. Binatang.
  3. Tanah
  4. Pasir dan batu
  5. Air‎

Bahan-bahan berasal dari yang tersebut diatas, adalah media untuk melakukan pengobatan.‎‎

Sumber dari rangkuman catatan: D. Dulanang Yones dan Arianto, Beginjan Maret 2009

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang LMA-DT

Lembaga Masyarakat Adat Dayak Tobag (LMA-DT) dibentuk sebagai wadah perjuangan untuk melestarikan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Dayak Tobag. Maksud utama dari keberadaan LMA-DT adalah untuk memperkuat kelembagaan adat, hukum adat, dan tradisi budaya sebagai identitas yang harus dijaga dan dihormati oleh seluruh masyarakat.

Visi

Dayak Tobag yang kuat dalam Kelembagaan Adat, kuat dalam Hukum Adat, kuat Adat Budayanya, Mandiri Masyarakat Adatnya, dan harmoni dengan alamnya.

Misi

 

  1. Memperkuat eksistensi Kelembagaan Adat.
  2. Memperkuat dan menjaga marwah hukum adat.
  3. Membangun sinergi dengan lembaga adat lain dan pihak LSM yang bergerak dalam adat budaya dan alam.
  4. Membangun hubungan yang harmonis yang saling menguatkan dengan dunia usaha.
  5. Menjaga, melestarikan, dan mempromosikan Adat Budaya.
  6. Mengali dan menjaga peninggalan budaya.
  7. Menjaga tanah air, dan menjaga keseimbangan alam dalam wilayah adat.

 

Kategori Blog

@2025 Lembaga Masyarakat Adat Dayak Tobag. All rights reserved.