Mengenal Pakaian Tradisional Dayak Tobag

Sumber photo:www.juraganles.com

LATAR BELAKANG MITOLOGI DAN SEJARAH

Menurut budaya lisan leluhur Dayak Tobag. Diperadaban awal mula manusia, dalam kisah Digak dan Digok dikenalkan Daun Lombak sebagai penutup kemaluan. Sedangkan bagian lainnya tidak ditutupi sama sekali. Tujuan menutup area sensitif tersebut untuk melindungi dari goresan dan benturan yang disebabkan kayu, pasir batu dan binatang. Goresan dan benturan apalagi sampai menyebabkan luka akan mengganggu aktifitas dalam meramu (mengumpulkan buah).

Pada jaman purba sebelum mengenal besi dan perunggu. Leluhur Dayak Tobag dalam kisah Mambang Ligat, merupakan potret masa berburu. Mereka mulai mengenal batu dan kayu yang runcing untuk berburu. Batu tajam yang diasah tipis juga berfungsi sebagai pisau saat itu. Dan mereka mulai mengenai kulit kayu terap untuk dijadikan pakaian, dan tentu diproses agar tidak kaku.

Setelah berabad-abad kemudian, bahan dari kulit kayu tapis mulai dikenal. Kulit dari kayu tapis mulai
digunakan untuk penutup bagian sensitif, sedangkan bahan dari kulit terap digunakan untuk penutup pelapis (bagian luar).

Mengapa leluhur Dayak Tobag tidak menggunakan kulit binatang seperti pada umumnya di belahan dunia luar? Jadi bukan rahasia umum, kalau Dayak umumnya memakan binatang buruan sampai habis, kecuali bulu/sisik, tulang dan kotoran binatang. Makanya kulit tak pernah dipikirkan untuk dijadikan sesuatu yang lain, selain untuk makanan. Budaya berpakaian ini terlestari sampai ada kaum dari belahan dunia luar memperkenalkan kain.

Konon sekitar abad 15 sebelum Masehi, pedagang dari Tiongkok mulai singgah di pulau Borneo/ Kalimantan. Yang menjadi tempat persinggahan populer bagi ajong-ajong yang berlayar adalah di pulau Maya. Pulau Maya merupakan wilayah Benua Bumbun Maya. Dalam kisah Menebang Kedondong raksasa di laman Maya, leluhur Dayak Tobag dikenalkan kain sebagai pengganti Kulit tapis dan tetap. Produk yang dibawa orang Tiongkok yang datang dan mulai menetap di laman Maya. Kain itu halus dan lembut, dan sangat digemari. Sayangnya kain saat itu sangat mahal, untuk membeli satu lembar kain dibarter dengan madu seteronong. Jadi yang mampu membeli kain tersebut adalah pemimpin anak suku. Masyarakat adat biasa yang tidak mampu membeli kain, lebih memilih tetap memakai kepua’, bahan gratis dari alam. Jadi pakaian dari kain saat itu menjadi simbol kemakmuran dan kepemimpinan.

Dalam peradaban maju setelah adanya pengaruh hinduisme. Kain hadir dengan warna beragam. Kain produk Tiongkok mengalami kemajuan pesat. Selain warna hitam yang masih jadi favorit, ada warna lain juga seperti: merah, kuning, putih, hijau, dan coklat. Nilai harga kain selain warna hitam dan coklat, harganya sangat mahal. Kaum rohaniwan banyak memakai warna coklat, hanya pemimpinnya (Brahmana) saja yang memakai kain kuning.

Sejak berkembangnya berkembangnya kerajaan di tanah Dayak. Produk pakaian dari Jawa mulai dikenal. Sejak jaman Kerajaan Bakulapura, Masyarakat adat Dayak Tobag mulai membaur dan belajar politik luar. Ma’ Galoh pada abad 15 kerap sekali menjadi Duta di dunia luar, termasuk di Kerajaan Majapahit. Setiap pulang dari pelayaran, rombongan Ma’ Galoh pasti membawa alu-alu (oleh-oleh/hadiah) bagi Pemimpin dan kaum kerabat di Benua Lancak. Komban dan kait sintok/ beinjong bagi wanita dikenalkan ke kaum kerabat. Yang laki-laki memakai kait balut dan pengganti kepua’. Demikianlah sejak itu, masyarakat adat Dayak Tobag akan menggunakan kain dalam kehidupannya. Jenis pakaian pun terus berubah seiring peradaban dan perkembangan jaman.

BENTUK DAN JENIS PAKAIAN DAN PERLENGKAPANNYA

Bentuk Pakaian menyesuaikan Jenis Pakaian. adat Dayak Tobag tempo dulu terdiri dari dua jenis:

  1. Jenis pakaian Lelaki:- Tua/Sepuh : Pakaian atas atau baju disebut Kelamek dan kait kabam, bisa berbentuk Rompi atau kain selempangan; Ikat kepala disebut Sengkulas; Pakaian bagian bawah (celana) disebut Serawal kepua’, golak kokot bau’, golak tungkai.- Dewasa: Kelamek bentuk rompi, Sengkulas atau Sempulo; Serawal Kepua’; Kait insok, golak kokot bau’, golak tungkai;- Remaja: Kelamek bentuk rompi, Serawal kepua’. Sengkulas, kait insok, golak kokot bau’, golak tungkai bagerunong;- Anak-anak: Kelamek rompi, Serawal kepua’, Sengkulas, golak kokot bau’, golak tungkai bagerunong.
  2. Pakaian Perempuan (Wanita)- Tua/Sepuh: Sengkulas/Sempulo, Komban, golak kokot, golak tungkai, Kait Sintok.- Dewasa: Sengkulas/Sempulo, Komban, kait insok, golak kokot, golak tungkai, Kait sintok.- Remaja: Sengkulas/Sempulo, Komban, kait insok, golak kokot, golak tungkai bagerunong, Kait sintok.- Anak-anak: Sengkulas/Sempulo, Komban, golak kokot, golak tungkai bagerunong, Kait sintok.

WARNA PAKAIAN

Dalam perkembangan budaya dan menyesuaikan berdasar literasi sejarah, warna dasar pakaian sesuai golongan usia masyarakat adat.

Adapun warna yang melekat dalam budaya tempo dulu adalah:

  1. Golongan Pemimpin menggunakan warna dasar Kuning.
  2. Golongan Tua menggunakan warna dasar putih.
  3. Golongan Dewasa menggunakan warna dasar hitam.
  4. Golongan Remaja menggunakan warna dasar merah.
  5. Golongan Anak-anak menggunakan warna dasar hijau.

Untuk masa sekarang tentu menyesuaikan jaman sesuai kesepakatan dalam masyarakat adat. LMA Dayak Tobag memandang sangat perlunya ciri khas warna dan motif dalam pakaian adat Dayak Tobag. Aktifitas berhuma atau berladang menjadi rujukan utama. Simbol Alam (Hutan dan tanaman) menjadi warna utama motif. Sedangkan warna lain menyesuaikan.

Berikut simbol warna dalam motif adat Dayak Tobag yang merujuk pada Huma:

  1. Hijau (warna utama), simbol alam/hutan/tanaman; bermakna subur.
  2. Kuning, simbol padi; bermakna kemuliaan.
  3. Putih, simbol abu; bermakna penyucian.
  4. Merah, simbol api; bermakna tetap bersemangat.
  5. Hitam, simbol arang; bermakna pengorbanan dan keteguhan.

Sumber catatan:

Arianto dan D. Dulanang Yones, 23 Maret 2012

Dan catatan tambahan berdasarkan diskusi (Arianto dan F.Yance) dengan materi berdasarkan sumber catatan awal tersebut diatas, pada 30 Maret 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang LMA-DT

Lembaga Masyarakat Adat Dayak Tobag (LMA-DT) dibentuk sebagai wadah perjuangan untuk melestarikan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Dayak Tobag. Maksud utama dari keberadaan LMA-DT adalah untuk memperkuat kelembagaan adat, hukum adat, dan tradisi budaya sebagai identitas yang harus dijaga dan dihormati oleh seluruh masyarakat.

Visi

Dayak Tobag yang kuat dalam Kelembagaan Adat, kuat dalam Hukum Adat, kuat Adat Budayanya, Mandiri Masyarakat Adatnya, dan harmoni dengan alamnya.

Misi

 

  1. Memperkuat eksistensi Kelembagaan Adat.
  2. Memperkuat dan menjaga marwah hukum adat.
  3. Membangun sinergi dengan lembaga adat lain dan pihak LSM yang bergerak dalam adat budaya dan alam.
  4. Membangun hubungan yang harmonis yang saling menguatkan dengan dunia usaha.
  5. Menjaga, melestarikan, dan mempromosikan Adat Budaya.
  6. Mengali dan menjaga peninggalan budaya.
  7. Menjaga tanah air, dan menjaga keseimbangan alam dalam wilayah adat.

 

Kategori Blog

@2025 Lembaga Masyarakat Adat Dayak Tobag. All rights reserved.