Asal usul Ba Uma (Berladang) menurut mitologi Dayak Tobag, terdapat dalam mitos dan legenda Dayang Arang. Dimana dalam kisahnya Dayang Arang hidup dan tercipta dari arca (mpago) yang di ukir Mambang Bulan. Mambang Bulan menyebutnya Dayang Arang, karena mpago yang dia ukir dari bahan arang kayu (bekas kayu terbakar). Dayang Arang sendiri memperkenalkan dirinya dengan namanya Uma (identik Dewi Uma dalam mitologi Hindu).Manusia pada jaman kehadiran Dayang Arang, sudah melaksanakan tradisi berladang untuk memanen arang kayu sebagai bahan makanan sehari-hari. Jebata merestui Mambang Bulan untuk menginginkan hal yang lain untuk kehidupan manusia. Singkat cerita tanpa sengaja Mambang Bulan melanggar pantangan yang menyebabkan Uma meninggal. Sebelum meninggal Uma sempat memberitahu Mambang Bulan, bila ingin dia hidup terus bersama manusia, jasatnya dicincang dan tabur diladang, tubuh Dayang Arang yang tercincang itu disebar diladangnya dan tumbuh menjadi tanaman-tanaman seperti: padi, longa, timun, perenggi dll. Sejak itulah tradisi berladang berubah semula memanen arang, kini memanen tanaman padi dan buah-buahan yang ada diladang sekarang ini.
Dari mitos singkat tersebut, kita baru tahu masyarakat adat Dayak Tobag mengabadikan nama sang Dewi dalam Tradisi yang disebut Ba Uma (berladang). Berladang terdiri 2 jenis yaitu berladang ditanah tinggi (gundol atau Munggu) dan berladang ditanah paya (tanah berair). Dimasa peradaban kuno, masyarakat Adat Dayak Tobag, dan Dayak umumnya melaksanakan Tradisi Ba Uma (berladang) berpindah-pindah.
Disetiap tradisi yang dilaksanakan Masyarakat adat, selalu disertai dengan ritual adat. Demikian juga dengan tradisi berladang ini. Leluhur Dayak Tobag sangat menghormati dan menghargai setiap anugrah karunia berkat dan pengorbanan. Apa yang terjadi dalam kisah mitos diatas syarat makna dan simbol kehadiran Tuhan dan peran alam dalam kehidupan manusia. Jebata (Tuhan) yang mengutus, tapi alam yang memberi dan menyediakan. Wujud ungkapan syukur dan terima kasih kepada Sang Pemberi dan Penyedia bagi makhluk hidup, ditampilkan dalam bentuk ritual adat.
Dalam Tradisi berladang, ada banyak ritual di dalamnya, mulai awal persiapan berladang, bertanam sampai panennya. Ritual adat tersebut diantaranya:
- Ritual adat ngawah (menetapkan lokasi untuk berladang).
- Ritual adat membakar ladang (prosesi pembakaran lokasi ladang).
- Ritual adat mane’ boneh (menyiapkan benih untuk ditanam).
- Ritual adat nimbong (induk benih).
- Ritual adat menugal (prosesi menanam).
- Ritual adat mocah buntik padi (pemeliharaan).
- Ritual adat mori antu apat (mengusiran hama dan gangguan lain).
- Ritual adat matah tangkai padi (awal panen).
- Ritual adat Nenteng semangant padi.(syukur dan terima kasih).
Konon menurut cerita leluhur, kalau berladang mengikuti ritual adat lengkap akan mendapat karunia berkah, sehingga petani bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah tak akan habis sampai musim berladang tahun berikutnya. Bila berladang melaksanakan Ritual tidak lengkap, maka petani kadang dapat hasil tidak mencukupi dalam setahun. Dan apabila tidak melaksanakan ritual adat, biasanya petani bisa mengalami gagal panen. Hasil panen biasanya disimpan di lumbung padi yang dikenal kerangking (kecil) dan jorok/jurongk (besar).
Bertani dengan berladang tradisional, kalau kita telisik lebih jauh, ternyata menggunakan teknik, cara dan ketentuan khusus dalam berladang. Diantara nya sebagai berikut:
- Memilih tempat tidak sembarangan dan harus ada etika baik dalam masyarakat dan dengan alam.
- Saat membakar juga ada ketentuan ketat yang melibatkan masyarakat adat setempat, justru dalam tradisi berladang sudah melaksanakan pencegahan kebakaran sedari awal, misalnya dengan membuat batas api dan saat membakar pun harus memperhatikan arah angin (ritual), batas-batas api dijaga agar tidak menyentuh kebun atau hutan disampingnya.
- Pemilihan benih, perawatan/pemeliharaan, dan pemberantasan hama juga sudah dipikirkan leluhur Dayak.
- Teknis memanen, dan penyimpanan hasil panen juga sangat diperhatikan.
Demikian penjelasan singkat tentang tradisi berladang dalam kebudayaan Dayak Tobag. Semoga bermanfaat.
Sumber: Catatan bapak D. Dulanang Yones dan Arianto; Beginjan 23 Maret 2014.


